Ketahui Apa itu Ekonomi Sirkular Serta Keuntungan Jika Diimplementasikan

Ketahui Apa itu Ekonomi Sirkular Serta Keuntungan Jika Diimplementasikan

jeudedecoration.com – Indonesia sedang bergerak menuju penerapan ekonomi sirkular. Ekonomi sirkular adalah model industri baru yang berpusat pada pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang, sehingga mengurangi konsumsi sumber daya primer dan timbulan limbah.

Konsep ini tidak hanya fokus pada pengelolaan sampah. Selangkah lebih maju adalah penggunaan proses produksi, di mana bahan baku dapat digunakan kembali. Jadi tentunya akan ada penghematan yang besar, terutama dari segi sumber daya alam.

“Di luar negeri sudah mulai turun jalan ini, bahkan beberapa negara sudah hampir memulai sebagian besar produk yang dihasilkan dalam proses ekonomi sirkular,” kata Medrilzam, direktur Kementerian PPN/Departemen Lingkungan Hidup Bappenas, saat berdiskusi pada kesepakatan ekonomi hijau, Kamis (1 Juni).

Transisi ke ekonomi sirkular penting bagi Indonesia karena akan memberikan banyak dampak positif bagi lingkungan dan pertumbuhan berbagai sektor pembangunan di masa mendatang.

Selain meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, penerapan konsep ekonomi hijau/sirkular berpotensi menciptakan 4,4 juta lapangan kerja tambahan. Pada tahun 2030, tiga perempat perempuan akan memiliki peluang yang lebih baik.

Ekonomi sirkular ini juga akan membantu pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030, angka yang dapat ditingkatkan menjadi 41% dengan kerjasama internasional.

Keuntungan Bagi Industri

Penerapan ekonomi sirkular dapat membawa banyak manfaat bagi sektor industri, seperti meningkatkan efisiensi bahan baku, meningkatkan produksi barang yang dapat didaur ulang, mencegah dumping dan emisi ilegal, dan tentu saja menciptakan lapangan kerja baru.

Dalam proses penerapan konsep ekonomi sirkular, Kementerian Perindustrian dan Informatika bahkan sudah mulai mengidentifikasi industri-industri utama yang akan diterapkan, antara lain industri plastik, industri limbah karet, industri pelumas, serta industri tar batubara dan tekstil.

Selain itu, industri plastik nasional memegang peranan penting dan berkaitan erat dengan industri lain seperti industri makanan dan minuman, kosmetik, farmasi, elektronik, pertanian, mobil dan barang-barang rumah tangga. Industri plastik Indonesia merupakan rantai pasok produksi untuk sektor strategis lainnya.

Saat ini, ada sekitar 1.600 industri hilir plastik di Tanah Air. Namun sejauh ini, permintaan industri masih didominasi bahan baku impor, dengan impor 3,8 juta ton pada 2019 untuk memenuhi permintaan. Selama periode ini, 2,5 juta ton bahan baku lokal tersedia.

“Dengan penerapan prinsip ekonomi sirkular, diharapkan impor bahan baku termasuk impor produk daur ulang dapat ditekan. Oleh karena itu, kami terus mendorong dan mengoptimalkan pasokan bahan daur ulang lokal di industri plastik, seperti potensi daur ulang semakin besar,” kata Muhammad Khayam, Direktur Jenderal Industri Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian, dalam keterangannya belum lama ini.

Perbedaan Ekonomi Sirkular dengan Ekonomi Hijau

Ekonomi sirkular dan ekonomi hijau memiliki tujuan yang sama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sambil mencapai tujuan sosial dan lingkungan. Namun, keduanya memiliki fokus yang berbeda.

Dimulai dengan Waste4Change, ekonomi hijau berfokus pada mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap fokus pada ketersediaan sumber daya alam yang ada dan keberlanjutan keseimbangan ekologi.

Pada saat yang sama, ekonomi sirkular lebih berfokus pada penggunaan sumber daya yang optimal, seperti pemulihan dan regenerasi produk dan material.

Check Also

Pinjaman Online Resmi yang Sudah Diawasi OJK

Pinjaman Online Resmi yang Sudah Diawasi OJK

Di era teknologi yang semakin maju saat ini, masyarakat dihadapkan pada berbagai platform yang menyediakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published.